Sabtu, 06 April 2013

PANDORA KOPI



Dan malam mengutus semilir anginnya sedang memasuki ventilasi jendela rumahku tanpa permisi seolah pencuri yang dengan senang hati membersihkan rumah beserta segala materi yang ada didalamnya untuk keperluan anak istri, katanya.

Semilir angin. Semilir angin yang menyejukkan bagi mereka yang telah lelah berolahraga dan mendinginkan bagi mereka yang tidak punya selimut dikala malam, bagi mereka yang tidur dijalanan karena sedikit ketidakadilan, oh.
Aku beranjak menuju dapur untuk menyeduh secangkir kopi sebagai doping agar kantuk tak menghampiri dikala tengah menyelesaikan tugas kantor.
Disana kulihat pak cecak sedang asyik selonjoran di dinding, sedang mencari angin katanya, Walau aku hanya menduga-duga perkataannya.
Diterangi karya edison aku melangkah kembali menuju meja kerjaku. sayu mataku menatap kembali ke monitor, seraya kembali menggoyangkan jari jemari di atas tuts keyboard sambil menunggu kopi yang ku seduh agak dingin.

*****

Perlukah kukatakan padamu bahwasanya aku adalah orang tua tunggal dari anakku tercinta yang lahir kurang lebih empat tahun yang lalu?. Namun nampaknya itu tidak perlu kukatakan. Aku hidup sendiri sudah lebih dari tiga tahun lalu, ditinggal oleh istriku terkasih yang sekarang mungkin malah sedang asyik menonton acara TV yang menayangkan kehidupanku dan anakku di surga sana. "kau curang istriku" bersitku dalam hati.

*****

Aku merasa melankoli malam ini (oh, itu kalimat soe hok gie) dan ini adalah untuk kesekian kalinya. Aku ingat secangkir kopi yang diseduh oleh istriku saat pertama kali.
"Bu, ayah takut diabetes nih." kataku padanya.

"Lah, emang kenapa, yah?." tanyanya bingung.

"Ya, soalnya tiap hari wajah ibu yang manis masuk terus dalam pikiran ayah, hihi." canda tengilku.

"Yee, ayah ni, dasar ganteng." sambil ia tersipu malu. Oh, betapa manis wajahnya saat itu kalau kau mau tahu.

"Bu, haus nih.", kataku padanya.

"Minum dong ayah.", Oh, kenapa kembali manis sekali mimik wajahnya.

"Hmm, bikinin ayah kopi dong, bu", pintaku.

"Kopi apa?"

"Ya kopi, bu, masa ga tau ih, udah gede" jawabku.

"Yee, si ayah nih. Ya udah ah, manis apa sedang?"

"yang sedang aja, bu.", jawabku.

"tunggu yah".

seraya istriku yang cantik beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan secangkir permintaanku yang berbentuk kopi.

*****

"Ini, yah."

"iya, makasih istriku", kataku.

Malam itu kami membicarakan banyak hal, membicarakan rencana punya anak, membicarakan pergi liburan, membicarakan banyak hal yang tetap saja membuat manis wajahnya ketika ku pandang.

"Bu, kalo ayah poligami gimana?", kataku.
Dia diam sejenak, wajahnya tampak sedikit cemberut.

"Ya silahkan saja, asalkan pulangin ibu ke rumah orang tua ibu.", katanya dengan masih saja sedikit cemberut.

"Idih, kaya lagu aja, bu", kataku kembali.

"Abis ayah sih, baru aja dua hari kita nikah, eh ini malah nanya poligami-poligami segala lagi", katanya dengan sedikit kesal.

"Hehe, iya maaf. Tapi ayah poligami itu bukan karena ayah udah ga sayang lagi sama ibu atau karena nafsu loh, bu" ,terangku padanya.

"terus?".

"Ayah poligami karena ayah ingin meringankan beban ibu saja, kan nanti kalo ibu cape ada yang bisa gantiin mijitin ayah, hehe", terangku padanya.

"Yee, dasor", seraya tangannya mencubit pipiku.

"Terus ntar ada yang bantuin ibu cuci piring, ada yang temenin ibu ngobrol kalo ayah belum pulang, meringankan beban ibu deh pokoknya mah" lanjutku padanya.

"Ga mau ih, ayah" singkatnya.

"Yah ibu nih, ga gaul.", goda ku.

"Idihh, nyebelin ih."

"kan, karena ayah nyebelin jadi ibu suka, yee.", godaku lagi.

Lantas mendarat lagi cubitannya padaku. Aku sedikit tertawa puas telah berhasil menggodanya, dan dia malah mencubitku semakin keras.

*****

memang yang dulu kini telah berubah menjadi secangkir kenangan dan selalu saja setiap saat bisa kucium wanginya seperti secangkir kopi robusta, tepatnya. Ketahuilah istriku, cintaku padamu takkan menua melainkan menjadi lebih bijaksana. Cintaku tak akan terkubur meski aku telah dikubur. Malah ia akan menerobos celah-celah tanah dan merasuk kedalam akar tetumbuhan dan menjadikannya dewasa dan berguna, sampai suatu saat layu dan terkulai dan hujan pun menyertainya. Kau memang sekarang disurga sana, tapi cintamu masih saja didalam hatiku dan nampaknya takkan pernah tergantikan sampai suatu saat aku bisa menemuimu lagi di surga sana, menggodamu lagi untuk berpoligami dengan para bidadari, haha. Entahlah, namun yang pasti kopi yang kuseduh sudah agak dingin.











Terinspirasi dari percakapan dalam buku al-asbun karya H.Pidi Baiq.

(Maaf kalo terlalu datar, karena saya tidak pandai berkonflik). Trimakasih




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...