Sabtu, 12-11-2011 04:35
Seseorang mengetuk pintu rumahku. Seorang kurir.
“Nona Dianna? Ada kiriman untuk anda. Sebelas tangkai edelweiss. Kami terima lima hari yang lalu, tetapi minta dikirim sore ini. Pengirimnya tidak diketahui. Dia tidak mau menyebutkan namanya. Dia pergi begitu saja. Silahkan tanda tangan disini,” dia menyerahkan kertas bukti tanda terima.
Aku gemetar menerimanya. Aku ingin menangis. Dia tahu dia akan pergi dari jauh-jauh hari. Aku ingin berteriak dan memanggilnya kembali.
Aku gemetar menerimanya. Aku ingin menangis. Dia tahu dia akan pergi dari jauh-jauh hari. Aku ingin berteriak dan memanggilnya kembali.
Bromo, Minggu, 16-01-2011 05:30
“Edelwiss. Nama latinnya Anaphalis javanica. Biasa tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Tanaman ini bisa disebut juga tanaman perdu, dan termasuk ke dalam anggota family Compositaeatau disebut juga Asteraceae. Bunganya bergerombol di ujung dahan dengan keharuman yang khas,” dibenahinya lagi letak kacamatannya.
“Indah sekali,” ucapku pelan sambil mengamati bunga putih itu di tangan seorang gadis kecil penjual Edelwiss.
Masih pagi. Dan dingin sekali. Beberapa kali kugosok-gosokkan kedua telapak tanganku untuk mengusir rasa dingin. Dia kembali menatapku dan membenahi letak syalku. Lalu mengarahkan perhatiannya kembali pada kamera nikonnya sambil sesekali menggambil gambar orang-orang yang berkerumun, menanti matahari terbit.
“Lihat ! Sudah muncul !” dia berseru pelan.
Aku berpaling ke arah yang ditunjuknya. Semburat jingga muncul di sebelah timur. Matahari muncul malu-malu dengan semburat cahayanya yang indah.
***
Selasa, 8-11-2011 17:30
“Aku mau sebelas.”
“Mengapa sebanyak itu ?”
“Aku menginginkannya. Kau bilang aku boleh meminta apapun. Kau ingat ? Lagipula ini hadiah ulang tahunku,” aku memeluknya dari belakang.
Dia melepaskan pelukanku lalu berbalik menghadapku dan tersenyum.
“Baiklah. Tetapi bagaimana jika aku tidak mendapatkannya. Atau mungkin mendapatkannya tetapi bukan sebelas. Mungkin sembilan atau hanya tujuh?”
Aku tidak mejawabnya dan berpaling ke arah jendela. Melihat matahari tenggelam di ufuk barat. Dia menarik pelan tanganku, membuatku kembali berpaling ke arahnya.
“Baiklah. Aku akan mendapatkan sebelas edelweiss untukmu,” dia kembali memelukku. Dan angin sore bercengkrama dengan dedaunan kering di pekarangan. Membuat tirai jendela berayun lembut dan menerbangkan sebagian rambutku.
***
Kamis, 10-11-2011 12:30 AM
“Ceritakan tentang kekasihmu,” Ibuku memaksaku bercerita di telepon. “Ayolah. Ibu ingin tahu. Segera perkenalkan padaku. Aku harus tahu seperti apa calon suami putriku. Jangan sampai kau memilih pria yang salah. Cukup aku saja yang salah memilih ayahmu.”
“Bu…,” ucapku pelan, berusaha menahan tangis. Kata-kata terakhinya mengingatkanku pada ayahku. Lelaki yang sejak 17 tahun yang lalu meninggalkan aku dan ibu, lalu pergi bersama wanita lain. Untuk sejenak aku terdiam. Merasakan sakit akibat mengingat hal buruk di masa lalu. Tiba-tiba segumpal kenangan dalam memoriku memaksa keluar. Memaksaku untuk melihatnya lagi. Tidak ada apapun. Hanya sakit dan kepedihan yang kurasakan.
Dua puluh tahun yang lalu. Seorang gadis kecil berjalan ketakukan di balik punggung ayahnya, sedangkan sang ayah berusaha menggandeng tangannya sembari tersenyum. Itu aku dan ayahku, saat dia mengantarkanku ke sekolah saat aku masuk Sekolah Dasar. Aku menahan tangisku mengenangnya.
Mata kecilku berkaca-kaca menyaksikan ayahku bersembunyi di balik boneka beruang besar berwarna cokelat. Itu hadiah ulang tahunku yang ke-tujuh.
Dianna kecil menangis ketakutan. Seorang badut berjalan mendekatinya sambil menyerahkan sebuah balon. Ayahnya menghampirinya sambil tertawa, dan membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang. “Dianna takut,Yah”. Dianna kecil tetap menangis.
16 tahun yang lalu. Aku menangis di balik pintu. Ibuku menangis sambil menahan rasa sakit akibat pukulan ayah di wajahnya. Sementara itu ayah membanting pintu dengan amarahnya.
17 tahun yang lalu. Aku berdiri di ambang pintu kamar ayahku. Menyaksikkan hal yang tidak bisa kumengerti. Ayahku mengemasi seluruh pakaiannya dan pergi dengan tergesa-gesa tanpa menghiraukanku yang memanggilnya sambil menangis menahan kepergiannya. Dan itu hari terakhirku melihat ayah.
“Dianna, kau masih disana?” Ibuku membuyarkan lamunanku. “Ibu akan menelponmu lagi besuk. Sekarang restoran sudah mulai ramai, jam makan siang. Jangan lupa, aku masih menyimpan pertanyaanku tentang kekasihmu,” Ibuku menutup teleponnya.
Aku tersenyum. Bisa kubayangkan. Dia akan sibuk mengawasi pegawai restorannya. Lalu berjalan kembali ke dapur mengawasi kokinya dan kembali lagi untuk memastikan tidak ada pelanggannya yang merasa tidak nyaman. Dia perempuan terkuat yang pernah kutemui. Ibuku.
Pertanyaan ibuku tentang Juna sedikit mengusikku. Bagaimana aku akan menceritakan tentang dirinya.
Arjuna Bagaskara. Aku biasa memanggilnya Juna. Dia kakak kelasku sewaktu SMU, walaupun kami tidak saling mengenal saat itu. Lalu kami bertemu lagi karena satu universitas. Selama bertahun-tahun di tempat yang sama tetapi tidak saling mengenal. Sampai akhirnya tiga tahun yamg lalu, kami bertemu di Bromo, saat aku berlibur kesana dengan teman kuliahku. Dia di sana saat itu, memegang kamera Nikon kesayangannya dan meminta izin padaku untuk memotretku, dengan latar belakang matahari tenggelam. Hanya itu saja, tanpa berkenalan satu sama lain. Lalu dia berlalu dengan meninggalkan senyum manisnya untuk kukenang dan ucapan terimakasih. Hanya itu. Tetapi itu saja sudah cukup membuatku berbunga-bunga. Aku menyukainya sejak SMU dan hanya bisa melihatnya dari jauh. Dan sekarang dia memotretku dan tersenyum padaku.
Seminggu berikutnya seorang perempuan yang tak kukenal memberiku sebuah novel dan surat tanpa memberitahuku siapa pengirimnya.Dia berlalu begitu saja sambil tersenyum ke arahku. Surat cinta yang manis, tanpa pengirim. Dan novel itu. Aku masih menyimpannya dan membacanya berulang kali sampai saat ini, “Winter in Tokyo” juga suratnya. Aku heran dan bertanya-tanya. Siapa pengirimnya ? Dan darimana dia tahu kalau aku menginginkan novel itu. Aku juga menerka-nerka siapa yang menulis surat itu. Tulisannya rapi, dan ia menuliskan hal ini :
Empat tahun berlalu. Dan aku masih saja menjadi pengecut. Yang hanya mampu mencintaimu dari jauh. Yang hanya bisa membungkus rinduku dan menyembunyikannya darimu. Yang setiap hari menyimpan kekhawatiran mengenai kehadiran laki-laki lain yang mungkin akan membuatmu jatuh cinta padanya. Aku hanya bisa mencintaimu dari jauh.
Surat yang membuatku takut, penasaran, bahagia sekaligus bertanya-tanya. Siapa yang mencintaiku sejak empat tahun yang lalu? Mungkinkah itu Arjuna? Dan hatiku semakin berdebar saat membuka lembaran pertama novel itu. Disana terselip sebuah potret seorang gadis dengan rambut panjang yang tertiup angin, dengan latar belakang matahari tenggelam dan gunung Bromo. Aku tercekat. Itu diriku ! Dan aku ingat betul siapa yang mengambil gambar itu. Arjuna !
Aku bahagia sekaligus tidak percaya. Seakan-akan dunia di sekelilingku berhenti dan hanya ada aku disana, yang tak sanggup berkata-kata. Lamunanku terhenti ketika salah seorang sahabatku menyenggol bahuku.
“Hei, kau tahu. Pria itu bertanya padaku mengenai banyak hal tentangmu. Sepertinya dia menyukaimu,” dia mengedipkan sebelah matanya. Lalu meminum minuman pesanannya di meja kantin kampus.
Pikiranku kembali dari khayalan. “Siapa?” seruku penasaran. Dia tersedak minumannya.
“Maaf,” kataku berusaha menenangkannya dengan panik.
“Dia. Kau tahu? Kakak tingkat kita yang tampan,cerdas, berkacamata. Tetapi juga pendiam dan sedikit aneh. Dia memotretmu di Bromo.”
Dan seolah dunia benar-benar terhenti.
Arjuna Bagaskara. Dia memang seperti Arjuna dalam kisah pewayangan. Arjuna yang tampan. Arjuna yang senang berkelana. Yang berambisi ingin mengajakku berkeliling dunia dan mengabadikannya dalam sebuah potret.
Arjuna Bagaskara. Aku yakin Ibuku akan menyukainya. Setidaknya dia tidak seperti Ayahku yang perokok, kasar kepada perempuan dan penjudi. Tidak ! Dia tidak seperti itu. Dia memang agak dingin dan jarang berbicara. Tetapi dia memiliki hati yang lembut dan kupikir tindakannya sudah cukup daripada kata-katanya.
Dia menyukai alam dan suka bepergian. Beberapa kali dia mengajakku mengunjungi dataran tinggi Dieng, mendaki gunung, mendengarkan suara ombak di pantai, dan tentu saja mengejar sunset. Dia menyukaisunset, sama sepertiku. Sunset, matahari, seperti namanya. Bagaskara=matahari. Dan dia bersikeras mengabadikan setiap sunset yang kita jumpai dengan kameranya. Dengan aku sebagai gadis dalam potretnya. Aku menyimpan semua potretnya dan menyimpannya dalam sebuah album. Sunset saat kami di Bromo, pantai Senggigi di Lombok, di Bali dan masih banyak lagi.
Arjuna. Aku menyukai segala hal tentangnya. Aku menyukai caranya membenahi letak kacamatanya. Aku menyukai caranya memandangku. Aku menyukai saat dia berjalan menjauh sambil membawa tas punggungnya. Aku menyukai caranya memperbaiki tali sepatunya yang lepas. Aku menyukai rambutnya yang berantakan. Aku menyukai saat dia tertawa di sampingku.
Tetapi dia tidak di sini. Dia pergi untuk beberapa hari ini, melepaskan kerinduannya pada alam, pepohonan, awan, udara di pegunungan dan angin. Dia pergi bersama kawan-kawannya di klub pecinta alam, mendaki gunung. Dan dia telah menjanjikan sebelas edelwiss sebagai hadiah dari kepulangannya dan hadiah ulang tahunku. Aku menunggunya.
***
Jum’at, 11-11-2011 08:00
Aku jengah melihat layar ponselku dan tidak menemukan apapun di sana. Tidak ada pesan singkat darimu, panggilan masuk atau apapun. Aku mengkhawatirkannya. Dia tidak memberi kabar apapun dua hari ini.
11:11
Seorang laki-laki menelponku, mengatakan bahwa Arjuna bersama empat pendaki lainnya tewas karena tersesat dan keterlambatan pencarian karena cuaca buruk.
Dan hal-hal yang selanjutnya kulihat adalah headline news di acara berita dan koran sore : “Lima Pendaki Tewas karena Tersesat dan Cuaca Buruk”
Seolah duniaku terhenti dan aku tidak menemukan Arjuna dimanapun, sejauh aku mengingat tentangnya. Dia pergi. Pergi di saat hari ulang tahunku.
03:11
“Dianna. Kau berjanji akan menceritakan tentang kekasihmu padaku. Ceritakan sekarang, aku tidak sabar mendengarnya,” Ibuku kembali menelponku.
Aku tidak bisa mengatakan apapun. Hanya isak tangis, sedu-sedan yang terdengar. Ibuku menanyaiku dengan amat khawatir. Berkali-kali dipanggilnya namaku. “Dianna…Dianna…Ada apa?” Dan aku tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Arjuna. Aku merindukan segala hal tentangnya. Aku rindu melihatnya membenahi letak kacamatanya. Aku rindu melihat caranya memandangku. Aku rindu melihatnya berjalan menjauh sambil membawa tas punggungnya. Aku rindu melihat caranya memperbaiki tali sepatunya yang lepas.Aku rindu melihat rambutnya yang berantakan. Aku merindukannya tertawa di sampingku.
Wonogiri-Rabu,7 Juni 201
oleh : Lembayung Musim Semi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar