Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 April 2013

PANDORA KOPI



Dan malam mengutus semilir anginnya sedang memasuki ventilasi jendela rumahku tanpa permisi seolah pencuri yang dengan senang hati membersihkan rumah beserta segala materi yang ada didalamnya untuk keperluan anak istri, katanya.

SEBELAS EDELWISS



Sabtu, 12-11-2011                                                                                                      04:35
            Seseorang mengetuk pintu rumahku. Seorang kurir.
            “Nona Dianna? Ada kiriman untuk anda. Sebelas tangkai edelweiss. Kami terima lima hari yang lalu, tetapi minta dikirim sore ini. Pengirimnya tidak diketahui. Dia tidak mau menyebutkan namanya. Dia pergi begitu saja. Silahkan tanda tangan  disini,” dia menyerahkan kertas bukti tanda terima.
            Aku gemetar menerimanya. Aku ingin menangis. Dia tahu dia akan pergi dari jauh-jauh hari. Aku ingin berteriak dan memanggilnya kembali.

Sabtu, 01 Desember 2012

Kematian Paman Gober

Kematian Paman Gober

 Oleh : Seno Gumira

Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.


Cerpen - "SIKAT GIGI"

Oleh : Dee
 
Ia kembali melongokkan kepalanya keluar jendela, menatap langit yang berantakan oleh bintang dan ribut sendiri. Ia selalu histeris akan hal-hal yang tak kumengerti. Setelah kami berdua duduk di atas rumput, ia pun menjelaskan dengan tabah. "Coba lihat…langit begitu hitam sampai batasnya dengan bumi hilang. Akibatnya kerlip bintang dan lampu kota bersatu, seolah-olah berada di satu bidang. Luar biasa kan?"
Egi selalu mampu menggambarkan segalanya dengan tepat, indah dan rasional. Atau mungkin itulah satu-satunya cara agar aku mampu mengerti keindahan yang ditangkap matanya. Aku bukan pujangga dan tidak pernah menyukai makna-makna konotatif. Monokrom dan kurang dimensi, begitu katanya selalu tentang diriku. Pragmatis dan realistis, demikian aku menerjemahkannya. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...